Lewati ke konten

Berapa Biaya Bikin Aplikasi Mobile di Indonesia

Foto Noviyanto

Noviyanto

Founder & Lead8 menit baca

Berapa Biaya Bikin Aplikasi Mobile di Indonesia

Kalau kamu mencari biaya pembuatan aplikasi di Google, dalam sepuluh menit kamu akan menemukan angka mulai dari Rp 1 juta sampai Rp 2 miliar. Keduanya ditulis dengan sama yakinnya.

Sebelum menulis tulisan ini kami membaca sembilan situs vendor Indonesia yang memasang artikel biaya aplikasi. Ada satu hal yang perlu kamu tahu lebih dulu, dan jarang disebutkan: hampir tidak ada vendor yang benar-benar memasang harga di halaman layanannya. Angka yang beredar hampir seluruhnya berasal dari artikel yang ditulis vendor itu sendiri — bukan survei pasar, bukan data asosiasi industri.

Kami juga tidak menemukan satu pun data resmi soal harga jasa pengembangan aplikasi di Indonesia. Tidak ada dari Komdigi, tidak ada dari asosiasi industri. Jadi tulisan ini bukan "harga pasar Indonesia". Ini rangkuman angka yang dipublikasikan vendor, ditandai jelas dari siapa asalnya, plus penjelasan soal apa yang sebenarnya menggerakkan angka itu.

Angka yang beredar, dan cara membacanya

Satu pola langsung terlihat begitu artikel-artikel itu dijejerkan: strukturnya nyaris identik. Tiga tingkatan yang sama, dan angka perawatan tahunan yang persis sama di empat situs berbeda. Kemiripan sedekat itu biasanya berarti saling menyalin, bukan empat pengamatan pasar yang kebetulan sama.

Meski begitu, ada satu rentang yang muncul konsisten di hampir semua sumber — Crocodic, Majapahit, Albatech, Mediatechindo, Code Hero — yaitu Rp 50–200 juta untuk aplikasi kelas menengah. Ketika lima vendor yang saling bersaing menyebut rentang yang berdekatan, setidaknya itu menunjukkan di mana pasarnya berkumpul.

Di bawah dan di atasnya jauh lebih longgar. Batas bawahnya berbeda tajam: Majapahit dan Mediatechindo menaruh aplikasi sederhana mulai Rp 5–15 juta, sementara Albatech memulai dari Rp 50 juta. Mereka membidik pasar yang berbeda, bukan sedang berbeda pendapat soal barang yang sama.

Rentang Rp 1 juta sampai Rp 2 miliar bukan tanda pasarnya kacau. Itu tanda "aplikasi" adalah kata yang terlalu luas untuk dihargai sebagai satu barang.
Sketsa tangan beberapa layar aplikasi di atas kertas, dengan pensil dan ponsel di meja kayu
Bentuk aplikasinya yang menentukan harganya. Itu sebabnya sketsa lebih dulu, angka belakangan.

Tiga tingkat, dan lompatan di antaranya

Cara paling berguna membaca harga aplikasi bukan dari angkanya, tapi dari apa yang dikerjakan aplikasinya.

Aplikasi yang cuma menampilkan

Katalog produk, profil perusahaan, jadwal, informasi. Tidak ada login, tidak ada data yang disimpan per pengguna. Appdev menaruhnya di Rp 20–50 juta, Mediatechindo Rp 15–50 juta, dengan pengerjaan sekitar empat minggu.

Pertanyaan jujur untuk tingkat ini: apa kamu benar-benar butuh aplikasi? Kalau isinya cuma menampilkan informasi, website yang rapi di HP mengerjakan pekerjaan yang sama tanpa memaksa orang mengunduh apa pun. Kami cukup sering menyarankan ini, dan cukup sering kehilangan proyek karenanya.

Aplikasi yang mengingat penggunanya

Begitu ada login, akun, dan data yang tersimpan per orang — pemesanan, absensi, keanggotaan — angkanya melompat. Appdev menaruh aplikasi pemesanan di Rp 50–120 juta, Mediatechindo Rp 50–150 juta.

Lompatannya sekitar tiga kali lipat dari tingkat sebelumnya, dan pola itu muncul di dua sumber berbeda. Penyebabnya bukan layarnya bertambah banyak. Penyebabnya: mulai dari sini kamu punya server yang harus dijaga tetap hidup, data orang yang harus diamankan, dan akun yang bisa lupa kata sandi.

Aplikasi tempat uang berpindah

Marketplace, transaksi, dompet, langganan. Appdev menaruh marketplace sederhana di Rp 75–150 juta dan aplikasi transportasi di Rp 150–300 juta. Mediatechindo menaruh kelas kompleks di Rp 150–500 juta ke atas.

Sekali lagi lompatannya sekitar tiga kali. Yang bertambah bukan cuma tombol bayar, melainkan seluruh hal yang mengikutinya: status pesanan, pembayaran gagal, pengembalian dana, dan pencatatan yang harus tetap benar ketika dua hal terjadi bersamaan.

Apa yang sebenarnya menaikkan angkanya

Tidak ada vendor Indonesia yang memasang harga per fitur — tidak ada daftar "login sekian, pembayaran sekian". Yang ada harga per jenis aplikasi. Tapi beberapa vendor membuka komponen biayanya, dan di situ polanya terlihat.

  • Bagian yang tidak kelihatan justru yang mahal. Albatech menyebut backend menambah 30–50% dari total biaya. Ini bagian yang tidak pernah dilihat pengguna dan hampir selalu diremehkan saat menyusun anggaran.
  • Tiap sambungan ke sistem lain dihitung tersendiri. Albatech mematok Rp 5–15 juta per integrasi — pembayaran, WhatsApp, software akuntansi. Tiga integrasi yang terdengar sepele di rapat bisa menambah puluhan juta.
  • Ongkos orangnya bisa diperkirakan sendiri. Mengutip data Jobstreet Juni 2026, Majapahit menyebut gaji bulanan developer aplikasi di Indonesia berkisar Rp 9,25–12,25 juta. Dari situ kamu bisa menaksir: aplikasi empat bulan dengan tiga orang punya lantai biaya yang tidak bisa ditawar terlalu jauh ke bawah.

Angka terakhir itu yang paling berguna. Kalau sebuah penawaran jatuh jauh di bawah ongkos orang yang mengerjakannya, uangnya harus datang dari suatu tempat — biasanya dari template yang dipakai ulang, atau dari biaya perawatan bulanan yang mengikat kemudian.

Satu aplikasi atau dua, dan sumber yang saling bertentangan

Membangun terpisah untuk iPhone dan Android berarti dua basis kode. Pendekatan lintas platform memakai satu basis kode untuk keduanya.

Soal berapa hematnya, sumber Indonesia justru saling bertentangan — dan kami rasa lebih berguna menyebut keduanya daripada memilih yang paling enak didengar. Albatech menaksir penghematan sekitar 50% dari biaya pengembangan dan 30–40% dari waktu. Majapahit jauh lebih konservatif: pengali dua platform sekitar 2x untuk native dan 1,7x untuk lintas platform, yang berarti hematnya hanya sekitar 15%.

Selisih sebesar itu bukan berarti salah satunya berbohong. Penghematan nyatanya bergantung pada seberapa banyak bagian yang harus dikerjakan khusus per platform. Aplikasi yang banyak memakai kamera, sensor, atau fitur khas sistem operasi akan mengikis penghematan itu dengan cepat.

Yang perlu kamu tanyakan ke vendor bukan "pakai teknologi apa", melainkan bagian mana dari aplikasimu yang tetap harus dikerjakan dua kali. Kalau jawabannya "tidak ada", minta ia menjelaskan bagaimana notifikasi dan izin perangkat ditangani di kedua sistem.

Dua ponsel berbeda ukuran berdiri berdampingan di atas meja kayu, layar menyala tanpa isi yang terbaca
Satu basis kode untuk dua toko aplikasi memang lebih hemat — besarannya yang masih diperdebatkan.

Biaya yang datang tiap tahun, bukan sekali

Bagian ini paling sering hilang dari perbandingan penawaran, padahal angkanya justru paling pasti.

Dua di antaranya bukan perkiraan siapa pun, melainkan tarif resmi:

  • Akun pengembang Apple: USD 99 per tahun, berulang selama aplikasimu masih ada di App Store (ketentuan resmi Apple). Institusi pendidikan terakreditasi bisa mendapat pembebasan biaya.
  • Akun pengembang Google: USD 25, sekali bayar seumur hidup (ketentuan resmi Google).

Cukup banyak artikel menulis biaya Play Store sebagai "USD 25 per tahun". Itu keliru, dan kekeliruannya searah — membuat Android terlihat lebih mahal dari kenyataannya. Yang benar: iOS punya biaya langganan permanen, Android tidak.

Selebihnya perkiraan, dan rentangnya lebar. Untuk server bulanan, Majapahit menyebut Rp 200 ribu sampai Rp 1 juta untuk skala UMKM, Albatech Rp 500 ribu sampai Rp 5 juta, sementara Crocodic memulai dari Rp 2 juta. Kami sebut ketiganya apa adanya, karena selisih sebesar itu memang menunjukkan sesuatu: biaya server bergantung pada jumlah pengguna, dan tidak ada yang bisa menyebut angkanya sebelum tahu berapa yang akan memakai.

Untuk perawatan, angka 15–25% dari biaya pengembangan per tahun muncul di Majapahit, Albatech, dan Crocodic. Persis sama di ketiganya — kemungkinan besar norma yang disalin dari luar, bukan hasil pengamatan pasar Indonesia. Tetap berguna sebagai ancar-ancar: aplikasi Rp 100 juta berarti menyiapkan Rp 15–25 juta per tahun setelahnya.

Soal penawaran Rp 10–15 juta

Angka terendah yang benar-benar terpasang di halaman layanan, bukan di artikel, kami temukan di Teknodigital: mulai Rp 10 juta. Di kelas ini ada satu hal yang perlu diperiksa, dan Layana menyebutnya terus terang di artikel mereka sendiri — penawaran di kisaran Rp 10–15 juta umumnya berbasis template, dan seringnya tanpa penyerahan kode sumber.

Itu tidak otomatis buruk. Kalau kebutuhanmu memang sederhana dan tidak berencana dikembangkan, template bisa jadi keputusan yang masuk akal. Yang berbahaya adalah membandingkannya berdampingan dengan penawaran Rp 80 juta seolah keduanya barang yang sama.

Tiga pertanyaan yang memisahkan keduanya dalam satu percakapan: kode sumbernya diserahkan atau tidak, akun App Store dan Play Store atas nama siapa, dan kalau tahun depan kamu pindah vendor, apa yang bisa kamu bawa. Ini persoalan yang sama dengan yang muncul saat memilih antara freelancer, agensi, dan tim sendiri, dan sama menentukannya.

Berapa lama, dan kenapa itu bagian dari harganya

Soal waktu, sumber-sumbernya justru paling sepakat. Aplikasi sederhana satu sampai dua bulan, kelas menengah tiga sampai empat bulan, kelas kompleks enam sampai sembilan bulan. Majapahit, Crocodic, dan Albatech menyebut rentang yang berdekatan.

Waktu bukan sekadar keterangan tambahan. Mempercepat berarti menambah orang atau memotong tahap, dan keduanya ada ongkosnya. Kalau kamu meminta pengerjaan setengah waktu normal, angka penawarannya naik, bukan turun.

Kenapa kami tidak memasang angka aplikasi di situs ini

Supaya adil, kami sebutkan juga posisi kami. Untuk website, sebagian harga kami pasang terbuka karena bentuk kebutuhannya sudah kami kenal betul. Untuk aplikasi, tidak — dan bukan karena disembunyikan.

Alasannya sama dengan yang kami tulis soal apa yang sebenarnya menentukan biayanya: angka tanpa konteks pasti meleset. Untuk aplikasi, jarak melesetnya jauh lebih lebar. Dua aplikasi yang sama-sama disebut "aplikasi pemesanan" bisa berbeda lima kali lipat biayanya, tergantung apakah pembayarannya di dalam aplikasi, apakah ada peran admin, dan apakah harus tetap jalan saat sinyal putus.

Yang bisa kami sebut terbuka adalah cara kerjanya. Aplikasi yang kami kerjakan memakai satu basis kode untuk iPhone dan Android, versi awal yang sudah bisa dipegang dan dicoba umumnya siap dalam dua minggu, dan pendaftaran ke App Store serta Play Store kami urus sampai lolos. Kalau kamu sudah punya aplikasi, kodenya kami audit dulu sebelum menyepakati apa pun.

Batas kami juga perlu disebut. Kami studio kecil dan menerima sedikit proyek aplikasi dalam satu waktu — kalau jadwal sedang penuh, kamu menunggu, dan kami akan mengatakannya. Kami juga tidak menyediakan jaga 24 jam. Untuk aplikasi yang berhentinya berarti transaksi ikut berhenti, itu pertimbangan serius.

Ringkasnya

Kalau kamu butuh satu ancar-ancar sebelum menghubungi siapa pun: aplikasi yang hanya menampilkan informasi ada di kisaran belasan sampai puluhan juta, aplikasi dengan akun dan data pengguna di kisaran Rp 50–200 juta, dan aplikasi tempat uang berpindah dimulai dari sekitar angka itu ke atas. Tambahkan USD 99 per tahun untuk App Store, USD 25 sekali untuk Play Store, biaya server bulanan, dan 15–25% biaya pengembangan per tahun untuk perawatan.

Perlakukan itu sebagai ancar-ancar, bukan penawaran. Semua angka di atas berasal dari vendor yang menerbitkannya sendiri, dan kami menyebut namanya supaya kamu bisa memeriksanya sendiri.

Kalau kamu sudah punya gambaran aplikasinya mengerjakan apa, kami merinci tiap item beserta harganya lewat form penawaran dan membalas dalam dua jam kerja. Gratis, tanpa kewajiban lanjut. Dan kalau setelah mengobrol ternyata yang kamu butuhkan bukan aplikasi, kami akan bilang begitu.

Langkah berikutnya

Ngobrol 30 menit dulu. Gratis, dan tidak harus lanjut.

Ceritakan bisnismu, kami bilang apa yang sebaiknya dibuat dan kira-kira habis berapa. Kalau belum cocok, tidak apa-apa.